Jumat, 23 September 2011

Indonesia atau Melayu Bahasa Resmi ASEAN?



Wakil Ketua DPR RI dari Fraksi Golkar, Priyo Budi Santoso, menegaskan bahwa Bahasa Indonesia bisa digunakan sebagai bahasa komunikasi diantara negara-negara ASEAN. Dalam pertemuan parlemen negara-negara ASEAN, delegasi Indonesia telah mengusulkan hal tersebut.

"Delegasi RI dengan penuh pendirian mengusulkan Bahasa Indonesia bisa digunakan sebagai bahasa resmi ASEAN, disamping juga Bahasa Inggris yang telah menjadi bahasa komunikasi kita," ujar Priyo di DPR RI, Jakarta, Jumat 23 September 2011.

Meskipun belum semua parlemen negara anggota ASEAN menyetujui, lanjut Priyo, usulan tersebut akan terus diperjuangkan. "Kita akan yakinkan nanti, khususnya untuk Filipina dan Singapura, mudah-mudahan dalam waktu tidak lama mereka mau setuju gagasan ini," kata Priyo.

Menurut Priyo, hal ini penting karena Bahasa Indonesia digunakan oleh banyak orang yang merupakan penduduk di negara ASEAN. "Selain Indonesia, kita ketahui di Malaysia, mereka gunakan Bahasa Melayu (akar Bahasa Indonesia) separuh penduduknya. Filipina yang keberatan juga ada kurang lebih 5 persen penduduknya di Moro dan sekitarnya yang mengunakan Bahasa Indonesia," kata Priyo.

Selain itu, lanjut Priyo, di Kamboja ada daerah tertentu juga yang penduduknya menggunakan Bahasa Indonesia.

"Dalam pertemuan parlemen se-ASEAN yang akan dilaksanakan Oktober tahun depan, di Yogyakarta atau Lombok, mudah-mudahan usulan ini akan disetujui dan lolos secara aklamasi," kata Priyo.

Sebelumnya, usulan berbeda diutarakan Menteri Penerangan, Komunikasi dan Budaya Malaysia Rais Yatim. Ia mengusulkan Bahasa Melayu sebagai Bahasa ASEAN. "Baik sekali kalau ada usaha kita untuk menyandingkan bahasa Melayu dengan Bahasa Jerman, Bahasa Perancis, Bahasa Arab, agar dia menjadi suatu lingua franca (bahasa pengantar)," kata Rais Yatim di Aula Gubernur Sumbar, di Jalan Sudirman, Padang, Jumat 23 September 2011.

Bahasa Melayu mana yang akan diusulkan "Yang penting kita tegasnya, Bahasa Indonesia-Bahasa Melayu adalah bahasa serumpun," ungkapnya. Ia berpendapat, untuk saat ini yang penting dilakukan adalah dengan membangun konteks persamaan dibanding mencari perbedaan.

Untuk diketahui, seperti halnya Indonesia, Malaysia menyebut bahasa resminya adalah Bahasa Malaysia. Meski berakar dari Bahasa Melayu.
• VIVAnews

0 komentar:

Posting Komentar