Sabtu, 14 Mei 2011

Serbu Langit Afghanistan, Pasukan Internasional Salah Sasaran



TEL AVIV (Berita SuaraMedia) – Kementerian luar negeri Israel menolak seruan presiden Rusia Dmitry Medvedev untuk melibatkan kelompok Palestina Hamas dalam proses perdamaian.

Medvedev bertemu dengan Khaled Meshaal, pimpinan Hamas yang diasingkan, di ibukota Syria, Damaskus, pada hari Rabu (11/5).

Presiden Rusia mendesak Hamas untuk mengusahakan sebuah kesepakatan rekonsiliasi dengan rivalnya Fatah, dan bersikukuh bahwa tidak seorang pun yang boleh disingkirkan dari proses perdamaian Timur Tengah.

Kementerian luar negeri Israel merespon dengan sebuah pernyataan keras, yang menyamakan Meshaal dengan Shamil Basayev – pemimpin pemberontak Chechen yang terbunuh oleh pasukan khusus Rusia tahun 2006 – dan mencap Hamas sebagai "organisasi teroris".

"Israel selalu berdiri di belakang Rusia dalam pertempurannya melawan terorisme Chechen dan akan mengharapkan perlakuan yang serupa terkait dengan terorisme Hamas melawan Israel," bunyi pernyataan tersebut.

Koran Israel Haaretz melaporkan pada hari Kamis bahwa pertemuan Medvedev - Meshaal adalah sebuah kejutan bagi Israel.

Rusia merupakan anggota Kuartet Timur Tengah, namun tidak seperti ketiga rekannya, negara ini mendesak keterlibatan langsung dengan Hamas. Anggota lain Kuartet bersikukuh bahwa Hamas harus meninggalkan terorisme dan mengakui negara Israel dulu.

Rusia adalah salah satu dari sedikit negara Eropa yang memelihara hubungan dengan kelompok itu. AS, Uni Eropa, dan Israel semuanya menuding Hamas sebagai organisasi teroris tanpa bukti yang menjelaskan.

Medvedev juga mendesak Meshaal untuk melepaskan Gilad Shalit, tentara Israel yang ditangkap oleh Hamas di tahun 2006.

"Presiden Rusia mendesak diselesaikannya masalah pembebasan Gilad Shalit secepat mungkin," ujar Natalya Timakova, juru bicara Medvedev.

Hamas menolak tekanan Rusia dan mengatakan bahwa Shalit tidak akan dibebaskan tanpa kesepakatan pertukaran tahanan.

Hamas telah meminta Israel membebaskan ratusan tahanan Palestina sebagai ganti Shalit.

Pemimpin Hamas dilaporkan menyalahkan Israel karena menggagalkan negosiasi untuk pembebasan Shalit. Kedua belah pihak telah bernegosiasi selama bertahun-tahun melalui tim mediasi Jerman.

Medvedev bertemu dengan Meshaal menyusul sebuah pertemuan dengan presiden Syria, Bashar Al Assad.

Kementerian luar negeri Israel menyatakan sangat kecewa bahwa Medvedev, bersama dengan Bashar Al Assad, menemui Khaled Meshaal, pemimpin Hamas yang hidup dalam pengasingan.

"Mereka adalah organisasi teror, dengan tujuan menghancurkan negara Israel. Hamas bertanggung jawab atas pembunuhan terhadap ratusan warga sipil yang tak bersalah," ujar kementerian. (rin/alj/tvnz) www.suaramedia.com

0 komentar:

Posting Komentar