Sabtu, 14 Mei 2011

Tolak Jadi Informan FBI, Pria Muslim Diancam "Hidup di Neraka"



IRVINE, California (Berita SuaraMedia) – Pada Senin waktu setempat, pemberitaan tentang Monteilh, informan FBI yang antusias dalam menemukan "teroris" di sebuah Masjid California sehingga komunitas tersebut melaporkannya kepada FBI. Monteilh mengatakan kepada publik dan menuntut FBI setelah kegagalan besar tersebut, dan, baru-baru ini, dakwaan yang berhubungan dengan teror dijatuhkan kepada anggota Masjid Ahmadullah Sais Niazi, yang diindikasikan dalam bagian yang besar karena informasi yang disediakan oleh Monteilh.

Namun ada putaran lainnya. Niazi mengklaim bahwa ia didakwa hanya setelah menolak untuk menjadi seorang intel.

Pada tahun 2006, Monteilh bekerja untuk FBI dan berpura-pura sebagai seorang Perancis keturunan Syiria dalam mencari akar Islamnya, masuk ke dalam Pusat Islam Irvine di bagan selatan California. Ia menghadiri sholat berjamaah secara teratur mulai mengenakan sebuah jubah, dan dilaporkan akan mengincar para anggota Masjid dengan mengatakan hal-hal seperti, "Merupakan hal yang bagus bahwa Anda sekalian bersiap-siap untuk perlawanan."

Monteilh nampaknya menggerakkan Niazi yang kelahiran Afghanistan. Pada Mei 2007, Monteilh merekam sebuah percakapan antara dirinya sendiri, Niazi dan seorang pria ketiga, yang di dalamnya Monteilh menyarankan untuk mengebom bangunan dan Niazi setuju. Namun setelah beberapa hari dari percakapan tersebut Niazi dan pria lain tersebut berhubungan dengan Hussam Ayloush, direktur eksekutif Dewan Hubungan Amerika-Islam cabang Los Angeles, untuk menujukkan kekhawatiran tentang Monteilh. Ayloush kemudian melaporkan Monteilh, informan FBI tersebut, kepada FBI.

Segala sesuatu nampaknya telah menjadi lebih kacau balau setelah itu. Ayloush mengatakan kepada para agen yang mewawancarai Niazi tentang Monteilh. Menurut kantor berita The Washington Post, Masjid tersebut datang pada Mahkamah Agung Orange County pada Juni 2007 dan mendapatkan sebuah perintah penahanan Monteilh. Namun pihak federal masih terus-terusan mengincar Niazi.

Pada 11 Februari 2009, sebuah pengadilan dengan juri mengindikasikan Niazi pada imigrasi yang berhubugan dengan teror dan dakwaan per juri. Sumber-sumber mengatakan pada harian tersebut banyak dari bukti menentang Niazi datang dari Monteilh. Pendakwaan tersebut menyataan pelanggaran dilakukan pada dokumen-dokumen naturalisasi Niazi yang diajukan pada tahun 2004, dan mengatakan bahwa pada tahun 2005 ia mengunjungi keluarganya di Pakistan, termasuk seorang anggota Al-Qaeda. Pada 20 Februari, Niazi ditahan. Empat hari kemudian, jaminan Niazi ditetapkan sebesar $ 500.000. Menurut pemberitaan lokal pada saat itu,agen FBI Thomas J. Ropel III bersaksi bahwa Niazi telah menyebut Osama bin Laden "seorang malaikat" dan telah berbohong tetang berapa kali ia dan "pria lain tersebut" telah membahas perlawanan.

Pada hari yang sama, bagaimanapun juga, Ayloush mengirim sebuah surat kepada Jaksa Agung Eric Holder mengatasnamakan Niazi, mengklaim bahwa pada 2008 Ropel telah mengancam untuk membuat kehidupan Niazi seperti di "neraka" jika ia tidak beerjasama dengan pihak penegakan hukum. Ayloush menulis:

"Pada April 2008, Niazi melaporkan kepada kantor kami bahwa ia telah berada di rumah seorang rekan bisnis ketika rumah tersebut diserang oleh FBI. Ia mengatakan kepada kami bahwa, selama serangan tersebut, Agen Khusus Thomas J. Ropel III mendesak Niazi untuk "bekerjasama" dengan agen tersebut, mengatakan bahwa jika Niazi menolak untuk bekerjasama, kehidupannya akan dibuat seperti 'tinggal di neraka'. Sementara ia menunjukkan keinginan untuk membantu pihak penegakan hukum, Niazi menolak untuk menjadi seorang informan. Pada Juni 2008, ketika FBI menyerang rumah Niazi, agen Ropel diduga mengatakan kepada Niazi, "Saya telah katakan kepada Anda; Anda tidak mendengarkan saya. Sekarang Anda mendapatkannya."

Sebuah wawancara dengan TPM pekan ini, Ayloush bersikeras bahwa Niazi telah dituntut setelah ditekan untuk menjadi seorang informan. Ayloush mengatakan kepada kantor berita TPM bahwa telah melakukan kontak dengan Niazi, namun Niazi telah disarankan oleh pengacaranya untuk tidak berbicara kepada media.

"Kami sangat kecewa kepada FBI," Ayloush mengatakan. "Jadi masyarakat menyaksikan hal ini, dan sekarang mereka bertanya-tanya, siapa teman kami?"

Pada 29 September, pada aplikasi untuk menolak penuntutan tersebut, Asisten Jaksa Agung AS Patrick Fitzgerald menyatakan, "Masalah pembuktian, termasuk tidak tersedianya sebuah saksi di luar negeri sebagai alasan para penuntut mengusahakan untuk menjatuhkan dakwaan-dakwaan tersebut."

Ketika dihubungi oleh kantor berita TPM, kantor FBI cabang Los Angeles tidak memberikan komentar. (ppt/tpm) www.suaramedia.com

0 komentar:

Posting Komentar